Ads 468x60px

Rabu, 20 Maret 2013

alat musik tradisional

Alat Musik Tradisional Minangkabau

Nuansa Minangkabau yang ada di dalam setiap musik Sumatra Barat yang dicampur dengan jenis musik apapun saat ini pasti akan terlihat dari setiap karya lagu yang beredar di masyarakat. Hal ini karena musik Minang bisa diracik dengan aliran musik jenis apapun sehingga enak didengar dan bisa diterima oleh masyarakat. Unsur musik pemberi nuansa terdiri dari instrumen alat musik tradisional antara lain :

1. Saluang

[Image: 289eu1g.jpg]

Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau,Sumatra Barat. Yang mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang (Schizostachyum brachycladum Kurz). Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai.

Alat ini termasuk dari golongan alat musik suling, tapi lebih sederhana pembuatannya, cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang. Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm. Adapun kegunaan lain dari talang adalah wadah untuk membuat lemang, salah satu makanan tradisional Minangkabau.

Pemain saluang legendaris bernama Idris Sutan Sati dengan penyanyinya Syamsimar.

Keutamaan para pemain saluang ini adalah dapat memainkan saluang dengan meniup dan menarik nafas bersamaan, sehingga peniup saluang dapat memainkan alat musik itu dari awal dari akhir lagu tanpa putus. Cara pernafasan ini dikembangkan dengan latihan yang terus menerus. Teknik ini dinamakan juga sebagai teknik manyisiahkan angok (menyisihkan nafas).

Tiap nagari di Minangkabau mengembangkan cara meniup saluang, sehingga masing-masing nagari memiliki style tersendiri. Contoh dari style itu adalah Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah. Style Singgalang dianggap cukup sulit dimainkan oleh pemula, dan biasanya nada Singgalang ini dimainkan pada awal lagu. Style yang paling sedih bunyinya adalah Ratok Solok dari daerah Solok.

Permainan musik Saluang ini biasanya diadakan dalam acara keramaian seperti keduri perkawinan, batagak rumah, batagak pangulu, dan lain-lain. Permainan ini, biasanya dilaksanakan setelah salat Isya dan berakhir menjelang subuh.
yang menarik dari kesenian ini, selain kecekataan dan kebolehan si peniup saluang, juga kata-kata yang didendangkan para dara-dara cantik Minang yang berisikan pesan, sindiran, dan juga kritikan halus yang mengembalikan ingatan si pendengar terhadap kampung halaman ataupun terhadap kehidupan yang sudah, sedang, dan akan dijalani. Umumnya, irama Saluang dan dendang yang mengiringinya terdengar sentimental (berhiba-hiba), tetapi adakalanya juga membuat penonton tertawa kegelian karena dendangnya yang lucu/bersifat menyindir penonton. Perhatikanlah salah satu lagu dendang Saluang berikut ini.

KACANG DIABUIH CIEK (kacang direbus satu)—pepatah Minang yang artinya: sifat seseorang yang mudah bertukar hati kepada tiap-tiap orang yang lebih menarik atau lebih kaya (tidak setia)/mudah berganti-ganti pasangan

Daulu memang denai tagilo-gilo
Kini jan disangko denai ka tadayo
sabab denai lah tau tingkah nan jo lakunyo
iyo bak cando samuik jolong mandapek gulo

cukuik sakali ka ganti pangajaran
jan sampai pisang buahnyo duo kali
daripado manyasa denai ko kamudian
labiah elok mailak pado den makan hati

bosan den lah bosan
den indak ka acuah lai
kini bia diam pado den maracun hati
sabab salamo ko lah pasai denai maliek
parangainyo bak cando kacang diabuih ciek

Dahulu, khabarnya pemain saluang ini memiliki mantera tersendiri yang berguna untuk menghipnotis penontonnya. Mantera itu dinamakan Pitunang Nabi Daud. Isi dari mantera itu kira-kira : Aku malapehkan pitunang Nabi Daud, buruang tabang tatagun-tagun, aia mailia tahanti-hanti, takajuik bidodari di dalam sarugo mandanga buni saluang ambo, kununlah anak sidang manusia……dst.

2. Bansi


[Image: 29ma99d.jpg]


Bansi Bentuknya Pendek dan memiliki 7 lubang dan dapat memainkan lagu-lagu tradisional maupun modern karena memiliki nada standar. Dibandingkan dengan alat musik tiup lainnya, yang ditemukan di daerah Sumatera Barat, Bansi memiliki nada yang lebih lengkap. Hal ini dapat terjadi karena Bansi mempunyai jumlah lobang nada yang lebih banyak, yaitu 7 buah. Dengan demikian, Bansi dapat menyanyikan lagu-lagu baik yang bersifat tradisional maupun modern. Dilihat dari segi bentuknya, Bansi berukuran lebih pendek daripada Saluang. Panjangnya lebih kurang 33,5 – 36 cm dengan garis tengah antara 2,5—3 cm. Bansi juga terbuat dari talang (bambu tipis) atau sariak (sejenis bambu kecil yang tipis).

Keunikan Saluang dan Bansi :
a. Keunikan Saluang

1. Makin pendek Saluang makin tinggi bunyinya.
2. Makin panjang Saluang makin rendah bunyinya.
3. Saluang dapat dibunyikan dengan indah karena kearifan pemainnya dalam mengatur nada.
4. Kadang-kadang bunyi saluang berlawanan dengan nada suara penyanyinya; terkadang sesuai dengan nada suara penyanyinya.
5. Jumlah lobang pada Saluang tidak sesuai dengan aturan tangga nada.
6. Dalam meniup saluang tidaklah terputus-putus karena keahlian peniup mengatur pernafasannya.

a. Keunikan Bansi
1 Bansi dapat dibunyikan dengan indah karena kearifan pemainnya dalam mengatur nada.
2. Bansi terkadang dibunyikan berlawanan denan nada suara penyanyinya, terkadang sesuai dengan nada suara penyanyinya.
3. Bansi dapat mengiringi berbagai jenis lagu, baik tradisional maupun modern karena mempunyai lobang nada yang lebih banyak.

Selain keunikan-keunikan itu, Saluang dan Bansi juga mempunyai perbedaan, terutama dari segi (1) panjang/ukuran, (2) banyak lobang, (3) cara memainkannya, dan (4) bunyi yang dihasilkannya.
Sebagai generasi muda, kita selayaknya mengenal dan menyukai musik tradisional. Apabila generasi muda tidak lagi menyukai musik tradisional, maka musik itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya orang tua-tua yang sekarang masih menyukainya.

3. Pupuik Batang Padi

[Image: 33lm2cy.jpg]


Pupuik batang padi terbuat dari batang padi. Pada bagian dekat buku dibuat lidah. Lidah itu, jika ditiu akan menghasilkan celah, sehingga menimbulkan bunyi. Pada bagian ujungnya dililit dengan daun kelapa yang menyerupai terompet. Bunyinya melengking dan nada dihasilkan melalui permainan jari pada lilitan daun kelapa,

4. Sarunai

[Image: 2h3vr4z.jpg]

Sarunai terbuat dari dua potong bambu yang tidak sama besarnya. Sepotong yang kecil dapat masuk ke potongan yang lebih besar. Fungsinya sebagai penghasil nada. Alat ini memiliki empat lubang nada. Bunyinya juga melodius. Karawitan ini sudah jarang yang menggunakan. Selain juga sulit membuatnya, nada yang dihasilkan juga tidak banyak terpakai.,

5. Pupuik Tanduak

[Image: 25iqkuf.jpg]

Terbuat dari tanduk kerbau yang dibersihkan. Bagian ujungnya dipotong rata dan berfungsi sebagai tempat meniup. Bentuknya mengkilat dan hitam bersih. Fungsinya lebih pada alat komunikasi. Tidak berfungsi sebagai alat pengiring nyanyi atau tari. Dahulu digunakan untuk aba-aba pada masyarakat misalnya pemberitahuan saat subuh dan magrib atau ada pengumuman dari pemuka kampung.

6. Talempong

[Image: 4ka9mx.jpg]

Talempong adalah sebuah alat musik khas Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan gamelan dari Jawa. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu, saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan. Talempong ini berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat tangga nada (berbeda-beda). Bunyi dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.

Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tari piring yang khas, tari pasambahan, tari gelombang,dll. Talempong juga digunakan untuk menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengantangga pranada DO dan diakhiri dengan SI. Talempong diiringi oleh akor yang cara memainkanya sama dengan memainkan piano

7. Rabab

[Image: 2z6xml2.jpg]

Rabab merupakan kesenian di Minangkabau yang dimainkan dengan menggesek biola.

Dengan rabab ini dapat tersalurkan bakat musik seseorang.

Biasanya dalam rabab ini dikisahkan berbagai cerita nagari atau dikenal dengan istilah Kaba.

8. Gandang Tabuik.

[Image: 1zqswif.jpg]

Tabuik berbentuk bangunan bertingkat tiga terbuat dari kayu, rotan, dan bambu dengan tinggi mencapai 10 meter dan berat sekitar 500 kilogram. Bagian bawah Tabuik berbentuk badan seekor kuda besar bersayap lebar dan berkepala “wanita” cantik berjilbab. Kuda gemuk itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada empat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas.

Kuda tersebut merupakan simbol kendaraan Bouraq yang dalam cerita zaman dulu adalah kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat. Pada bagian tengah Tabuik berbentuk gapura petak yang ukurannya makin ke atas makin besar dengan dibalut kain beludru dan kertas hias aneka warna yang ditempelkan dengan motif ukiran khas Minangkabau.

Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan “bungo salapan” (delapan bunga) berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik. Pada bagian puncak Tabuik berbentuk payung besar dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran.

Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih. Di kaki Tabuik terdapat empat kayu balok bersilang dengan panjang masing-masing balok sekitar 10 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan “menghoyak” Tabuik yang dilakukan sekitar 50 orang dewasa.

Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang. Tabuik dibuat di rumah Tabuik secara bersama-sama dengan melibatkan para ahli budaya dengan biaya mencapai puluhan juta rupiah untuk satu Tabuik.

Musik Minangkabau berupa instrumentalia dan lagu-lagu dari daerah ini pada umumnya bersifat melankolis. Hal ini berkaitan erat dengan struktur masyarakatnya yang memiliki rasa persaudaraan, hubungan kekeluargaan dan kecintaan akan kampung halaman yang tinggi ditunjang dengan kebiasaan pergi/merantau.

Industri musik di Sumatra Barat semakin berkembang dengan munculnya seniman-seniman Minang yang bisa membaurkan musik modern ke dalam musik tradisional Minangkabau. Perkembangan musik Minang modern di Sumatra Barat sudah dimulai sejak tahun 1950-an ditandai dengan lahirnya Orkes Gumarang.

Alat musik pukul lainnya yang juga sering digunakan untuk pelengkap talempong, juga dapat dimanfaatkan secara tungal. Misalnya untuk arak-arakan pada acara Tabut, Khatam Quran dan arak-arakan lainnya. diantaranya : Canang, Gong, Tambur, Rabano, Indang dan Adok.
Alat Musik Tradisional Jawa Tengah – Mengenai alat musik tradisional Jawa Tengah sebenarnya tidak beda jauh dengan alat musik tradisional Jawa Barat. Oleh karena itu di dalam artikel ini saya akan menceritakan lebih khusus lagi tentang sejarah alat musik tradisional Jawa Tengah yang patut untuk disimak dan diketahui. Namun sebelum itu, saya akan menuliskan sedikit tentang profil Provinsi Jawa tengah.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Provinsi yang berada paling tengah di Pulau Jawa adalah Provinsi Jawa Tengah. Dan Provinsi Jawa tengah ini sendiri sebenarnya mencakup Daerah Isitimewa Yogyakarta yang berada dibagian wilayah dari Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di bagian barat, dan Laut Jawa di sebelah utara. Termasuk Pulau Nusa Kambangan yang berada di sebelah selatan, serta pulau karimun jawa di laut jawa adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat.
Ada yang menyebut bahwa Provinsi Jawa Tengah ini adalah jantung dari kebudayaan yang ada di Pulau Jawa. Meskipun begitu bukan berarti di Provinsi Jawa Barat ini tidak ada suku lain selain suku Jawa. Pada kenyataannya terdapat banyak sekali berbagai macam suku yang tinggal wilayah ini selain Suku Jawa yang tetap hidup dengan harmonis. Ada bangsa Arab-Indonesia, ada India-Indonesia bahkan warga Tionghoa-Indonesia juga ada di sana.
Khusus mengenai alat musik tradisional Jawa Tengah yang sebenarnya hampir tidak jauh berbeda dengan alat musik tradisional Jawa Barat, maka saya akan menyampaikan sedikit saja tentang alat musik tradisional di Provinsi Jawa Tengah berikut ini.

Inilah Alat Musik Tradisional Jawa Tengah

Angklung
ALAT MUSIK ANGKLUNG
Tidak berbeda dengan Angklung yang berasal dari Jawa Barat. Angklung yang ada di Jawa Tengah ini juga merupakan alat musik tradisional yang dibuat dari bambu dan cara memainkannya dengan digoyang hingga ruas-ruas bambu tersebut bersentuhan dan menghasilkan suara yang khas. Saya akan ceritakan sejarah angklung lebih jauh lagi di dalam artikel ini.
Gamelan
Gamelan adalah jenis alat musik pukul yang biasanya dipadu dengan berbagai alat musik lainnya seperti metalofon, gong, gendang, dan gambang. Bahkan pada abad ke-18 gong itu dianggap merupakan sinonomi dari gamelan. Gamelan ini terbuat dari lempengan-lempengan logam yang disusun diatas sebuah kotak kayu yang digantung dengan tali secara mendatar. Tiap-tiap potongan logam berbeda panjang untuk menghasilkan perbedaan tangga nada yang dihasilkan.

Berikut ini adalah Sejarah Alat Musik Tradisional Jawa Tengah

Sejarah Angklung
Pada awalnya, angklung sebenarnya digunakan oleh pemerintah kita di tahun 1971 saat itu sebagai salah satu alat untuk diplomasi budaya. Bahkan penyebaran alat musik tradisional Jawa Tengah yang satu ini menyebar sampai ke manca negara. Tercatat lebih dari 8.000 sekolah di Korea Selatan mempelajari Angklung sebagai salah satu mata pelajaran mereka di sekolah. Demikian juga di Skotlandia dan Argentina.
Dimulai tahun 2002, pemerintah kita melalui Departemen Luar Negeri telah membuka kesempatan kepada para pelajar yang berasal dari luar negeri untuk mempelajari angklung di Indonesia. Dan Angklung ini tidak hanya lagi sekedar alat musik yang menjadi kebanggaan negara kita, bahkan menjadi salah satu media yang memupuk rasa persaudaraan berbagai bangsa di dunia. Bahkan negara-negara luar tahu tentang filosofi angklung ini, yaitu 5 M (mudah, menarik, meriah, mendidik, massal).
Tidak tanggung-tanggung, bahkan ada bukti tertulis tentang penggunaan Angklung tertua dalam sejarah Indonesia. Yaitu seperti yang tertulis di Prasasti Cibadak. Di prasasti tersebut tertulis tahun 1031 SM atau 952 Saka yang terletak di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Tertulis juga diprasasti tersebut bahwa Sri Jayabuphati sebagai Raja Sunda di masa itu menggunakan angklung dalam berbagai upaca keagamaan.
Bukti lain juga terdapat dalam sebuah buku Nagara Kartagama tertulis tahun 1359 yang menjelaskan bahwa di zaman itu angklung telah digunakan untuk menyambut para tamu kerajaan dan untuk memeriahkan acara-acara pesta di beberapa kerajaan. Dari sagi kata “angklung” itu berasal dari dua suku kata alam bahasa sunda yaitu “Angka” yang artinya nada dan kata “lung” yang berarti pecah. Jika digabungkan maka Angklung itu artinya alat musik yang bernada pecah.
Sejarah Gamelan
Menurut sejarah, alat musik Gamelan ini dimulai dengan masuknya budaya Hindu-Budha yang saat pada masa itu mendominasi beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Tengah. Pada zaman kerajaan Majapahit instrumen gamelan ini terus dikembangkan. Dalam kebudayaan Jawa ada yang menyebutkan bahwa Sang Hyang Guru pada Era Saka yang merupakan dewa yang saat itu diyakini sebagai penguasa tanah jawa adalah yang menciptakan Gamelan.
Ukiran yang bergambar alat musik tradisional Jawa Tengah satu ini pertama kali ditemukan di Candi Borobudur, kota Magelang Jawa Tengah. Yang mana kita tahu bahwa Candi Borobudur sendiri dibangun pada abad ke-8. Selain Gamelan beberapa alat musik lainnya seperti suling bambu, gendang, lonceng, kecapi, dan lain sebagainya juga ditemukan di dalam relief di Candi Borobudur tersebut.
Nah, itulah sejarah singkat tentang dua buah alat musik tradisional Jawa Tengah yang terkenal bahkan telah mendunia ini. Maka menjadi tugas kita lah untuk melestarikan dan menjaga kekayaan budaya dan kesenian yang ada di tanah Jawa khususnya, dan umumnya di seluruh pelosok nusantara.

Senin, 29 November 2010

Karinding, Seni Sunda Yang Menggeliat

   Pada awalnya saya mengenal alat musik sunda itu, suling, gamelan, calung, angklung dan kendang. Ternyata masih banyak khazanah kesenian dan alat-alat musik sunda yang beredar tetapi tidak terpublikasi dan tidak diajarkan sewaktu sekolah. Namanya Karinding, teman saya punya group musik ‘Karinding Attack” yang underground dan lumayan keren. Karinding sendiri adalah alah yang terbuat dari kayu, ukurannya kecil mungkin sebesar pulpen atau lebih. Dibunyikannya dengan meniup dan menggerakan bagian ujung.
Untuk yang pertama kalinya saya mendengarkan langsung pementasan seni karinding di acara diskusi seni dan lingkungan yang paradoks pada 28 April 2010 di Museum Barli, Bandung. Dua kelompok seni karinding yang menampilkan dan membuat saya takjub. Keduanya memberikan saya fenomena baru dalam dunia musik tradisional.
Karinding (diunduh dari www.wacananusantara.org)

Pada penampil pertama, yang menyajikannya dari Lembang. Saya tidak mencatat namanya, tetapi tahu asal mereka dari Lembang. Penampil pertama ini sangat sunda buhun. Membawa ‘harimau’ dan dupa yang dibakar. Liriknya juga rada-rada kesundaan baheula banget. Sangat tradisional dan sunda pisan. Dandannya jangan ditanya, kalau sunda pisan berarti lengkap antara baju pangsi, iket, kantong yang terbuat dari rami.
Penampil kedua dari Mahasiswa, uniknya ada perempuan dan tambahan alat musik yang ditiup yaitu suling dan satu lagi saya tidak tahu namanya, yang pasti seperti alat musik yang bisa menirukan bunyi burung berkicau, kalau ke Taman Wisata Alam Tangkubanparahau banyak penjualnya.
Kelompok Karinding sekarang semakin bertebaran. Saya ingat bahwa Dadang Hermawan yang terkenal dengan nama Utun, ketua FK3I Jabar, tokoh gerakan lingkungan dan seni sunda membawa Karinding pada ranah musik alternatif. Dengan kelompoknya bernama ‘Karinding Attack‘, Dadang sudah tampil dibeberapa even musik di Kota Bandung. Salahsatunya ketika pergelaran musik Underground, ‘karinding attack’ menyerang dari sisi lain. Ditengah musik-musik cadas, karinding attack muncul. Saya salut pada perjuangan Dadang ‘utun’ dalam mengkampanyekan seni sunda, kearifan lingkungan. Maju terus, Karinding! Yuuu mari kita ngarinding bareng!

ASAL MULA-NYA KARINDING

Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun memainkan karinding ini dalam ritual atau upaca adat. Maka tak heran jika sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah. Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di kalangan anak muda hingga para gadis pun akan memberi nilai lebih pada jejaka yang piawai memainkannya. Mungkin keberadaannya saat ini seperti gitar, piano, dan alat-alat musik modern-popular saat ini.
Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah ada bahkan sebelum adanya kecapi. Jika kecapi telah berusia sekira lima ratus tahunan maka karinding diperkirakan telah ada sejak enam abad yang lampau. Dan ternyata karinding pun bukan hanya ada di Jawa Barat atau priangan saja, melainkan dimiliki berbagai suku atau daerah di tanah air, bahkan berbagai suku di bangsa lain pun memiliki alat musik ini–hanya berbeda namanya saja. Di Bali bernama genggong, Jawa Tengah menamainya rinding, karimbi di Kalimantan, dan beberapa tempat di “luar” menamainya dengan zuesharp ( harpanya dewa Zues). Dan istilah musik modern biasa menyebut karinding ini dengan sebutan harpa mulut (mouth harp). Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang. Sedangkan karinding yang di temui di tataran Sunda dimainkan dengan cara di tap atau dipukul.
Material yang digunakan untuk membuat karinding (di wilayah Jawa Barat), ada dua jenis: pelepah kawung dan bambu. Jenis bahan dan jenis disain bentuk karinding ini menunjukan perbedaan usia, tempat, dan sebagai perbedaan gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini untuk perempuan, karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan tembakau. Tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti di wilayah priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan ini menjadi bagian dari kehidupannya.[1]
Karinding umumnya berukuran: panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Namun ukuran ini tak berlaku mutlak; tergantung selera dari pengguna dan pembuatnya—karena ukuran ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bunyi yang diproduksi.
Karinding terbagi menjadi tiga ruas: ruas pertama menjadi tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karindingdiketuk dengan jari. Dan ruas ke tiga (paling kiri) berfungsi sebagai pegangan.
Cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan ruas tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau menyentir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum” karinding pun bergetar secara intens. Dari getar atau vibra “jarum” itulah dihasilkan suara yang nanti diresonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah. Secara konvensional—menurut penuturan Abah Olot–nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada empat jenis, yaitu: t

Kalimantan

 Kasapi

 
Kasapi adalah alat musik Jenis lute dengan badan mirip perahu, terdapat di beberapa
wilayah Indonesia: Kasapi, Sampek (Kalimantan), dan Salude (Minahasa).
Suling
 
 
Suling adalah alat musik dari keluarga alat musik tiup kayu. Suara
suling berciri lembut dan dapat dipadukan dengan alat musik lainnya
dengan baik. Suling pada Kalimantan disebut Kledi, Keruri, dan Kedire
 
Gong
 
 
Gong atau Tawak merupakan sebuah alat musik pukul yang
terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat
musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini.
Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada
gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya
masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya
menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi
kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan
dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara
dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari
menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena
satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan
mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.

Gendang
 
 
Kendang, kendhang, atau gendang adalah alat musik yang
dimainkan dengan cara di tepuk.
Rebab
 
Rebab (Arab: الرباب atau رباب ) adalah alat musik gesek yang
biasanya menggunakan 2 atau 3 dawai, alat musik ini adalah alat musik
yang berasal dari Timur Tengah dan mulai digunakan di Asia Tenggara
setelah penyebaran pengaruh dari Timur Tengah.
Alat musik yang menggunakan penggesek dan mempunyai tiga
atau dua utas tali dari dawai logam (tembaga) ini badannya
menggunakan kayu nangka dan berongga di bagian dalam ditutup
dengan kulit lembu yang dikeringkan sebagai pengeras suara.
Gambang
 
 
Gambang adalah alat musik pukul tradisional (bagian dari perangkat gamelan) yang
dibuat dari bilah-bilah kayu (16—25 bilah) yang panjang dan besarnya
tidak sama, dimainkan dengan alat pukul.
Gender


Gender (dibaca:"gendèr", IPA:gəndɛr) adalah alat musik pukul
logam (metalofon) yang menjadi bagian dari perangkat gamelan Jawa
dan Bali. Alat ini memiliki 10 sampai 14 bilah logam (kuningan) bernada
yang digantungkan pada berkas, di atas resonator dari bambu atau seng,
dan diketuk dengan pemukul berbetuk bundaran berbilah dari kayu
(Bali) atau kayu berlapis kain (Jawa). Nadanya berbeda-beda, tergantung
tangga nada yang dipakai. Pada gamelan Jawa yang lengkap terdapat
tiga gender: slendro, pelog pathet nem dan lima, dan pelog pathet
barang. Bentuk gender menyerupai gangsa pada gamelan Bali dan
slenthem pada gamelan Jawa.
Panting
 
 
Musik Panting adalah musik tradisional dari suku Banjar di
Kalimantan Selatan. Disebut musik Panting karena didominasi oleh alat
musik yang dinamakan Panting, sejenis gambus yang memakai senar
(panting) maka disebut musik Panting. Pada awalnya musik Panting
berasal dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat
musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi
ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan
secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya
perkembangan zaman dan musik Panting akan lebih menarik jika
dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting
sekarang ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan
biola dan pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik
panting berasal dari nama alat musik itu sendiri, karena pada musik
Panting yang terkenal alat musiknya dan yang sangat berperan adalah
Panting, sehingga musik tersebut dinamai musik panting.
onggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.

Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan

 Alat Musik Tradisional Sulawesi Selatan – Sedikit mengenai Profil Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi yang beribukotakan Makassar atau yang dulu disebut Ujung Pandan ini ternyata Pada tahun 1964 adalah tahun dimana Provinsi Sulawesi Selatan dibentuk. Sebelum diresmikan menjadi provinsi sendiri, sebelumnya Sulawesi Selatan adalah bagian dari Sulawesi Tenggara yang dulu pernah dinamakan dengan nama Provinsi Sulawesi Selatan-Tenggara.




Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar